Intip Hal yang Dipelajari CEO Perusahaan Teknologi Saat di Perguruan Tinggi

Intip Hal yang Dipelajari CEO Perusahaan Teknologi saat di Perguruan Tinggi (2-Habis)

Jadwal dan hasil liga champion okezone – Bagi mahasiswa baru, memilih jurusan bisa seperti keputusan yang membentuk masa depan kehidupan seseorang. Namun, gelar dalam ilmu komputer bukan menjadi jaminan bahwa nantinya mereka berhasil menciptakan startup miliaran dolar.

Pernahkah Anda bertanya apa yang dipelajari para chief executive officer (CEO) perusahaan teknologi dunia semasa duduk di bangku perguruan tinggi? Ya, beberapa jurusan yang dipilih mereka mungkin ada yang terhubung atau tidak dengan apa yang mereka capai saat ini.

Berikut ini hal yang dilajari oleh CEO teknologi dunia di perguruan tinggi.

Tim Cook, CEO Apple Almamater: Auburn University (B.S.), Duke University’s Fuqua School of Business Jurusan: Industrial Engineering (B.S.), M.B.A.

Mark Zuckerberg, CEO Facebook Almamater: Harvard University (dropped out) Jurusan: Psikologi dan Ilmu Komputer Zuckerberg tak pernah menyelesaikan salah satu dari dua jurusan yang dipilihnya karena drop out (DO) sejak tahun kedua. Ia pun pindah ke Palo Alto dan bekerja full time di Facebook.

Larry Page, CEO Alphabet Almamater: University of Michigan (B.S.), Stanford University (M.S.) Jurusan: Computer Engineering (B.S.), Computer Science (M.S.)

Evan Spiegel, CEO Snapchat Almamater: Stanford University (dropped out) Jurusan: Product Design

Elon Musk, CEO Tesla and SpaceX Almamater: University of Pennsylvania’s College of Arts and Sciences & Wharton School of Business Jurusan: Fisika dan Ekonomi Sebelum membayangkan menempatkan orang di Mars, Musk menikmati lebih banyak kegiatan pejalan kaki. Sebagai sarjana di University of Pennsylvania, Musk terkenal menyewa sebuah rumah dengan 12 kamar tidur dan mengubahnya menjadi sebuah kelab malam, yang terkadang memiliki tamu sebanyak 500 orang.

Marissa Mayer, CEO Yahoo Almamater: Stanford University (B.S., M.S.) Jurusan: Symbolic Systems (B.S.), Computer Science (M.S.)

Mayer tiba di Stanford dengan sebuah rencana untuk mengejar jalur pra-med dan akhirnya menjadi ahli bedah saraf anak. Namun, tahun pertama ia mengambil kelas yang disebut CS 105A—Computer Science for Non-Majors dan dengan cepat jatuh cinta dengan bidang itu.

Reed Hastings, CEO Netflix Almamater: Bowdoin University (B.A.), Stanford University (M.S.) Jurusan: Matematika (B.A.), Ilmu Komputer (M.S.) Hastings menunda penerimaan kuliahnya selama satu dekade untuk melanjutkan pekerjaan musim panasnya yakni menjual vacuum door to door. Sementara di Bowdoin, Hastings menjalankan Outing Club yang menyelenggarakan climbing dan berkano.

Jack Ma, CEO Alibaba Almamater: Hangzhou Normal University (B.A.), Cheung Kong Graduate School of Business Jurusan: Bahasa Inggris (B.A.), M.B.A. Ma tidak masuk perguran tinggi pada usaha pertamanya atau yang kedua bahkan yang ketiga. Secara keseluruhan, Jack Ma mengajukan kuliah empat kali sebelum diterima dan mendapat gelar bahasa Inggris.

Travis Kalanick, CEO Uber Almamater: UCLA (dropped out) Jurusan: Computer Engineering Kalanick pergi ke UCLA untuk belajar teknik komputer, namun ia keluar untuk mengerjakan Scour, mesin pencari peer-to-peer.

Meg Whitman, CEO Hewlett Packard Enterprise Almamater: Princeton University (B.A.), Harvard Business School Jurusan: Economics (B.A.), M.B.A. Whitman awalnya ingin menjadi seorang dokter dan memulai karier kuliahnya dengan belajar sains dan matematika. Namun, setelah menghabiskan musim panas menjual iklan untuk majalah, dia justru beralih jurusan jurusan ekonomi.

Satya Nadella, CEO Microsoft Almamater: Manipal Institute of Technology (B.S.), University of Wisconsin Milwaukee (M.S.), University of Chicago Booth School of Business Jurusan: Electrical Engineering (B.S.), Computer Science (M.S.), M.B.A. Meskipun Nadella kelahiran India, ia awalnya ingin menjadi pemain kriket profesional. Namun, ia menyadari sejak dini bahwa akan lebih baik mengejar hasratnya untuk bidang sains dan teknologi. Ia mendapatkan gelar sarjana teknik elektro karena selalu ingin membangun sesuatu. Kemudian, ia pergi ke Amerika Serikat (AS) karena menginginkan sebuah universitas dengan program komputer sains.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s