11 Pengalaman Sakit yang Cuma Dirasain Cowok Saat Patah Hati

Cek resi pengiriman motor – Memulai lebih mudah daripada mempertahankan. Hal tersebut tak bisa dipungkiri dalam suatu hubungan. Terlebih ketika kita berbicara tentang cinta dan anak muda. Selama ini, ada saja hubungan cinta yang kandas begitu saja, tapi tetap meninggal luka mendalam.

Luka tersebut biasa dilihat dari sisi wanita. Bahwa wanitalah yang akan mengalami patah hati yang menyakitkan setelah hubungan mereka berakhir. Namun, tahukah kalau kalau pria juga mengalami hal serupa. Perlu bukti? Yuk intip cerita cowok ini.

1. “Semuanya kita lalui, masa-masa sulit, atau itu yang gue kira…”

improvemant.com

“Kita pacaran lebih dari lima tahun. Semuanya kita lalui, masa-masa sulit, atau itu yang gue kira. Hari itu kita bertengkar besar hanya karena gue telat jemput dia. Itu adalah pertama kalinya sepanjang kami bersama. Gue nggak masalah kalau dia marah, tapi menurut gue, dia berlebihan saat itu. Dia akhirnya minta putus di tempat saat kita lagi malam mingguan. Gue dimarah-marahin sampai dia puas. Gue nggak nyangka sebagaimana tempramennya dia. Padahal kita selalu talk things out, sampai masalah selesai. Gue merasa dia nggak ngehargain gue di saat itu juga, karena itu tempat umum dan tidak seharusnya dia semarah itu. Gue selalu teringat dengan dia yang selalu bikin gue kesal, tapi gue maafin. Ketika gue punya alasan logis untuk alasan ketelatan gue, dia malah kayak “kesetanan”. Gue kesal, sekaligus sedih karena hubungan yang nggak *bentar * ini kandas karena hal sepele begitu” – Kai, 22 tahun.

2. “Dia itu baik, pengertian, penyayang, sempurnalah. Sayangnya, itu ke semua cowok yang deketin dia”

glamour.com

“Jadi gue lagi dekatin cewek ini di kantor. Gue kira gue akan berhasil merebut hatinya, karena dia bisa dibilang “kembang” di kantor. Tapi apa yang gue dapat? Kosong, bro! Gue deketin tiga bulan, gue ajak ke sana-sini. Gue beliin yang dia bilang ‘aku mau dong’. Iya, orang-orang akan pasti bilang gue yang bodoh mau dimanfaatin. Tapi kalau lu yang deketin dia juga, lu akan nggak akan jauh beda dari gue. Dia itu baik, pengertian, penyayang, sempurnalah. Sayangnya, itu ke semua cowok yang deketin dia. Gue paling kesal dan nggak nyangka adalah ketika akhirnya gue nyatain perasaan ke dia. Dia bilang butuh seminggu untuk berpikir. Gue kira ada harapan, tapi gue terlalu cepat senang. Beberapa hari kemudian teman nongkrong gue yang dari perusahaan lain dan masih satu gedung sama kantor kita bilang kalau dia juga pernah nembak itu cewek dan disuruh nunggu satu minggu. Sampai saat ini, nggak ada jawaban, itu sudah dua bulan kemarin dan cewek itu langsung lost contact. Jadi sekarang gue sudah nunggu dua minggu dan gue juga hilang akun yang biasa kita chatting. Sakit gue, ngerasain dimainin ketika guenya mau serius dan benar-benar jalanin hubungan” – Jon, 23 tahun.

3. “Mungkin dia nggak kuat, tapi kenapa nggak bilang langsung, kenapa harus hilang gitu aja?”

ilovehdwallpapers.com

“Hubungan kita memang baru satu tahun, tapi satu tahun itu memang tak selamanya kita tersenyum dengan satu sama lain. Kita juga sibuk dengan urusan kita masing-masing. Aku selalu berusaha menyempatkan waktu untuk mengirimkannya makanan ke kantornya, karena kita kerja di lokasi berbeda. Suatu hari, aku meminta ojek online untuk mengirimkan coklat dan kue-kue untuk dia. Setengah jam kemudian, tukang ojeknya kembali dan mengatakan bahwa si penerima (pacarku) sampai turun langsung menemui dia dan marah-marah nggak jelas dan memintanya untuk mengembalikan kiriman padaku. Aku pun meminta maaf dan mengambil barangnya lagi dari tukang ojeknya, kemudian menghubungi pacarku. Dia tidak mengangkat, aku berkesimpulan kalau dia sibuk. Nah, malamnya, aku mencoba hubungin dia lagi, tapi nomernya nggak aktif. Akhirnya, aku mencoba mengontak via email sampai chat Facebook. Tidak ada yang dibalas. Aku pun mencoba untuk ke kantornya, kaget banget ketika dia meminta satpam (sudah kenal sama aku) untuk tidak mengizinkanku naik dan menemui dia. Aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku kesal karena aku sendiri tidak tahu apa mau dia dan apa yang salah. Mungkin dia nggak kuat, tapi kenapa nggak bilang langsung, kenapa harus hilang gitu aja? Aku kesal karena rasanya nggak ada gunanya setahun terakhir ini. Sakit hati pasti, karena disisiku terus berusaha yang terbaik untuk menjaga hubungan, tapi dia hilang gitu aja” – Bram, 27 tahun.

4. “Akhirnya, kita putus, dengan alasan yang dari awal dikhawatirkan: beda agama”

wanderluxe.theluxenomad.com

“Kita bertemu saat di bangku kuliah. Gue dan dia memang punya perbedaan, yaitu agama. Namun, kita berusaha tidak mempermasalahkan itu, karena kita sudah saling sayang dan terlalu erat. Semuanya berjalan seperti bagaimana hubungan baik berlanjut. Sampai satu saat, kita bertengkar dan sibuk juga dengan urusan masing-masing. Kita jadi seperti sering hilang komunikasi dan seperti kehilangan kesatuan kita. Gue sendiri berusaha, tapi yang nggak gue duga adalah dia malah dekat sama cowok lain ketika kita di masa renggang. Akhirnya, kita putus, dengan alasan yang dari awal dikhawatirkan, beda agama. Namun, di saat itu dia memang sudah dekat dengan orang lain. Gue kesal kenapa harus berakhir kayak gini, gue nggak habis pikir kok dia bisa dengan mudahnya berpindah gitu aja. Masa-masa bersama seakan nggak ada yang berbekas untuk dia, sementara gue di sini harus memulai dari nol lagi dan emang nggak mudah” – Billy, 22 tahun.

5. “Gue bingung kenapa cewek harus merasa yang selalu tersakiti, karena ada satu sisi dia yang akhirnya akan menyakiti cowoknya juga!”

huffingtonpost.co.uk

“Gue bingung kenapa cewek harus merasa yang selalu tersakiti, karena ada satu sisi dia yang akhirnya akan menyakiti cowoknya juga. Dia mau bilang itu karma? Tapi ketika dia sendiri gak berusaha mempertahankan, gue bisa apa? Masa motor yang hilang roda belakangnya bisa jalan dengan roda depan doang? Dia dengan mudahnya bilang putus karena gue gak peka. Karena gue nggak mau berusaha, tapi di satu sisi dia yang move on gitu aja padahal kita belum benar-benar pisah. Jujur aja kalau gue ingat-ingat, gue masih kesal-kesal ketika dia bilang ‘Nggak perlu bilang putus, aku udah nggak anggap kita pacaran dari beberapa minggu. Aku udah ketemu cowok yang mau ngertiin dan selalu ada untuk aku’. Dengan mudahnya itu kalimat keluar dari mulutnya. Gue nggak paham lagi maunya gimana, gue sakit hati karena gue yang mati-matian menopang keruntuhan malah beneran ditinggal gitu aja. Nggak habis pikir, kok bisa sekejam itu” – Diki, 23 tahun.

6. “…dia tidak menerimaku, tapi dia juga tidak menolak. Dia hanya berkata ‘Kalau memang waktunya, bakal jadi kok…'”

feelgooder.com

“Vero adalah cewek yang berhasil merebut hatiku. Kita kenal lewat UKM saat kuliah. Aku pun mendekatinya, bak dayung bersambut dia juga memberikan respon positif padaku. Kemudian, tak lama setelah kami dekat, aku akhirnya menyatakan perasaanku. Nah, aku pun terkejut ketika dia tidak menerimaku, tapi dia juga tidak menolak. Dia hanya berkata ‘Kalau memang waktunya, bakal jadi kok’. Awalnya aku kira Vero hanya butuh waktu untuk memantapkan hatinya. Namun, tidak ada kepastian dan kami selayaknya menjalani hubungan tanpa status. Aku pun bingung, karena bagiku, adanya status akan membuatku mampu berkomitmen dengan pasangan. Selama hubungan ini, dia juga seakan-akan membatasiku untuk tidak dekat dengan gadis lain. Lama kelamaan aku pun habis kesabaran dan mencari penjelasan lagi. Namun, apa yang aku utarakan ditangkap dengan salah. Dia malah marah-marah padaku dengan kata-kata kasar. Sejak saat itu kita tidak pernah berkomunikasi lagi. Aku di satu sisi masih bingung dengan masalah ini, tapi aku juga kesal, kenapa dia banyak menutut, tetapi ketika aku mencoba meminta kepastian, dia seperti punya ego tinggi yang menangkalnya memberikan kepastian itu. Egonya terlalu tinggi itu yang membuatku kehabisan akal” – Mardi, 22 tahun.

7. “Aku seakan-akan mainan yang dibeli di pasar loak”

couplescounselingchicago.net

“Kita gak sengaja dekat, kita hanya kenal karena dia kenal dengan temanku. Aku sendiri bingung bagaimana kami bisa dekat. Namun, pada akhirnya kami memang saling suka dan berkomitmen. Namun, keanehan terjadi setelah satu minggu kami pacaran. Dia seakan-akan selalu mencari alasan untuk tidak bertemu denganku. Bahkan di tempat kerja dia selalu menghindariku. Aku terkesan jadi pria yang ngebet untuk jadi pacarnya. Beberapa hari kemudian, dia mendatangiku dan kami berbicara panjang lebar. Intinya, dia sudah bosan sama aku, dia minta putus. Dia hanya memberi alasan ‘bosan’. Aku bisa bilang apa? Hanya terduduk lemas dan kesal dengan caranya itu. Aku seakan-akan mainan yang dibeli di pasar loak. Kemudian dimainkan dan jadi favorit selama beberapa hari, lalu ketika sudah mendapatkan mainan baru, aku pun dibuang. Dia merasa bahwa dialah yang bisa mengatur segalanya, dengan kata-kata bosan dan tidak bosan. Aku baru pertama kali, dan berharap ini terakhir kalinya, ketemu manusia seperti itu” – Gun, 22 tahun.

8. “Gue dibilang cowok pengecut, nggak perhatian, nggak punya tanggung jawab, nggak tahu diuntung, sok ganteng, sampai kata-kata yang buruk”

sellyourstoryuk.com

“Hubungan kami selama setahun terakhir diliputi putus nyambung. Tapi tak pernah sekali pun dia merasa bersalah ketika berkata ‘putus’. Dengan mudah dia selalu berkata itu ketika dia merasa ‘tersakiti’. Gue yang juga terlalu bodoh karena terlanjur cinta. Ketika dia meminta kembali, gue akhirnya mengikuti maunya dia. Baru sebulan, dia mengatakan putus lagi. Gue pastikan itu sebagai yang terakhir kalinya. Ketika dia berkata itu, gue langsung pergi, meskipun dia terus memanggil dan berkata ‘Kita akan tetap bersama, karena lu dan gue satu!’ Ngeri? Gak usah dibilang lagi. Benar saja, dua minggu lalu dia minta balikan. Tapi gue sudah bertekad dan lupain dia. Eh, dia malah caci maki gue. Gue dibilang cowok pengecut, nggak perhatian, nggak punya tanggung jawab, nggak tahu diuntung, sok ganteng, sampai kata-kata yang buruk. Gue sakit hati, tapi gue hanya balas dengan meminta dia pergi dari pandangan gue. Dia nggak pergi, gue yang pergi. Gue kesal karena dia nggak menghargai gue sebagai cowok. Dia selalu mengira bisa seenak begitu saja ngatain gue. Seakan-akan dia lebih baik daripada gue” – Abdul, 23 tahun.

9. “Gue mengulang kesalahan yang sama saat SMA, suka dan menyatakan cinta ke sahabat cewek gue sendiri”

themodernman.com

“Gue mengulang kesalahan yang sama saat SMA, suka dan menyatakan cinta ke sahabat cewek gue sendiri. Gue suka sama dia dan dekat, mungkin juga karena sahabat. Akhirnya gue menyatakan cinta gue ke dia. Yah, rencana berantakan karena dia menolak pernyataan cinta gue dengan alasan klasik, belum siap untuk berkomitmen dulu. Namun, lucunya, tiga minggu kemudian, dia malah jadian dengan cowok lain. Kenapa tidak langsung bilang aja kalau tidak mau? Kenapa harus sungkan-sungkan berkata tidak mau berkomitmen. Itu sama saja dengan bohong, toh?” – DAB, 22 tahun.

10. “Kita bersama selama ini, terasa nggak ada masalah apa-apa, tapi ternyata ‘serigala’ betina yang gue pacarin”

thedailybeast.com

“Kita tak pernah bertengkar, kalau saling berdebat pun tidak sampai berlebihan, hanya sepele. Namun, semuanya terasa nggak berguna ketika gue tahu dia main di belakang gue. Betapa terkejutnya gue ketika tahu kalau dia punya selingkuhan. Ketika gue mempertanyakan tindakannya, dia malah menangis, seolah-olah membuat gue pihak yang bersalah. Dia bilang ‘Kamu kok nuduhnya gitu banget sih! Aku kan khilaf. Aku juga nggak tahu, kalau kamu punya selingkuhan apa nggak, kamu nggak usah langsung ngomong begitu dong!’ Lucu ya? Gue langsung minta putus, gue penat dan nggak habis pikir. Kita bersama selama ini, terasa nggak ada masalah apa-apa, tapi ternyata ‘serigala’ betina yang gue pacarin. Gue kesalnya adalah malah dia jadi nuduh gue sengaja ‘membongkar’ selingkuhan dia karena gue juga punya selingkuhan. Logikanya di mana?” – Ian, 22 tahun.

11. “Rasa cintanya sebagai pasangan yang sudah ‘mengucap sumpah’ lebih kecil dibandingkan keegoisannya”

datingloveandsextips.com

“Tidak akan mengira ini bakal berakhir begitu saja, kita dua tahun menjalin hubungan ini. Uniknya adalah dia itu overprotective. * Ketika gue menghubungi rekan kerja perempuan, dia akan marah dan cemburu. Dia sampai ngelarangi gue untuk memulai menghubungi mereka duluan, meskipun terkait dengan pekerjaan. Gue pun bingung menghadapinya. Puncaknya adalah ketika manager *baru gue yang notabene cewek meminta gue untuk menghubunginya ketika klien perusahaan memberikan respon ke gue. Gue pikir tidak masalah, karena itu bos gue istilahnya. Ternyata, gue salah, ketika dia cek dan bertanya panjang lebar. Dia pun meledak, dia menampar gue dan marahin gue habis-habisan. Gue yang sudah capek untuk menjelaskan pun biarin dia marah. Pada akhirnya mengucapkan kata cerai, gue berusaha untuk tidak mewujudkan itu. Dia sampai mengancam untuk mengakhiri hidupnya sampai akhirnya gue penuhi itu. Gue hanya tidak paham kenapa dia bisa sampai berlebihan seperti itu. Gue merasa bahwa rasa cinta dia sebagai pasangan yang sudah ‘mengucap sumpah’ lebih kecil dibandingkan egoisnya. Gue merasa kalau dua tahun gue bersama dia, dia jadi orang yang nggak pernah gue bayangkan” – Nilo, 30 tahun.

Lelaki itu juga manusia, karena mereka juga diberikan perasaan oleh Tuhan. Memang kami tidak selalu menggunakannya, tapi ketika sudah seperti ini, sakit hati pun kami alami. Percayalah kalau kami juga bisa ‘membungkus’ rasa sedih kami ketika itu diperlukan. Namun, kesakitan dan kesedihan itu nggak pernah hilang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s