Mengenal “Brand Journalism”

on

Mengenal “Brand Journalism”

Meets up Go Ahead – Tema inilah yang diangkat pada acara PR INDONESIA Meetup #3, “Effective Brand Journalism for PR” di Jakarta, Jumat (11/3/2016). Acara yang rutin diselenggarakan oleh Majalah PR INDONESIA itu dihadiri oleh 70 peserta dari berbagai komunitas PR. Siang itu, acara bulanan ini menghadirkan dua pembicara. Mereka adalah Managing Director Imogen PR Suharjo Nugroho dan Marketing PR Manager PT HM SampoernaTbk Mandra Pandelaki.

Suharjo mengatakan, brand journalism adalah metode mengreasikan konten, lalu menyampaikan brand (produk) langsung ke audiens. Di era multiplatform seperti sekarang ini, penyebaran informasi tidak cukup mengandalkan media konvensional saja. Penyampaian informasi bisa dipacu melalui berbagai perangkat mulai dari media sosial, blog, hingga video berdurasi singkat namun mudah diingat seperti di YouTube.

Setiap produk/perusahaan bisa langsung berinteraksi dengan audiens dengan memanfaatkan semua platform yang ada. Maka dari itu, muncul rumus baru di kalangan PR, every company is media company. Gaya penulisan yang dipakai pun bertutur (storytelling) layaknya jurnalis. Isinya jujur, fokus disampaikan kepada individual consumer, bersifat personal, dan tidak harus mengedepankan nama perusahaan. “Memakai metode jurnalis untuk mendapat informasi dari narasumber atau target audiece,” kata Jojo, begitu ia biasa disapa berkesimpulan.

Gaya Bertutur

Menurut Jojo, pada dasarnya semua orang tak ingin digurui. Mereka kerap melewatkan semua materi yang berbau iklan. Tapi, senang mendengarkan cerita. “It’s a fundamental communication methods,” ujarnya. “Bedanya, anak-anak zaman sekarang senangnya mendengar atau membaca cerita melalui gadget,” imbuh pria berkacamata tersebut.

Contoh di atas sudah dilakukan oleh Sampoerna. Khususnya, saat mereka aktif mengampanyekan festival musik Soundrenalin dan Go Ahead dengan memanfaatkan keberadaan Key Opinion Leaders (KOLs).  “Benefitnya luar biasa. Tanpa billboard dan advertorial, efektif mendatangkan massa dua kali lipat dari target,” kata Ara, sapaan akrab Mandra.

Bahkan, Praktisi PR Senior Maria Wongsonagoro, sudah mempraktikkan metode ini 25 tahun lalu guna meminimalisasi stigma lepra. Termasuk, Ika Sastrosoebroto, Ketua Bidang Pengembangan Organisasi Asosiasi Perusahaan PR Indonesia (APPRI) yang sudah delapan tahun ini aktif menggunakan metode tersebut untuk meningkatkan brand awarenesspariwisata Sulawesi Utara. “Brand journalism itu menulis dengan gaya jurnalis. Flash writing and very personal,” pungkasnya.

Jojo pun mengajak semua praktisi PR untuk berevolusi mengikuti tren. “Bicara soal senjakala media, ada pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya. Know your audience and follow the track,” katanya. “Jangan sampai fenomena yang sedang terjadi di perusahaan media saat ini menular ke PR,” tutupnya. (rtn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s