Tips Food Photography Untuk Pemula

Belajar Food Fotografi – Saya lagi senang-senangnya motret makanan nih. Jadi ketika beberapa waktu lalu komunitas Kompakers Makassar mengadakan workshop food photography bagi membernya, dengan segera saya join. Mendadak jadi anggota, apalah.. demi ilmu baru gak apa-apa kan?

Karena dimaksudkan untuk menerbitkan selera makan atau bikin ngiler orang yang melihatnya, maka food photography ini memerlukan beberapa persiapan sebelum pengambilan gambar. Sementara yang umum dilakukan oleh para social media freak sebenarnya dikategorikan sebagai food documentation dimana sebuah foto yang dalam pengambilannya tidak memerlukan sebuah persiapan khusus.

Sebenarnya kita bisa kok melompat naik ke kategori food photography. Tentunya ada berbagai persiapan khusus.  Nah, jadi apa saja persiapan dalam food photography? Yuk kita cek bersama :

1. Komposisi Pencahayaan

Ada dua jenis pencahayaan yang kerap digunakan dalam food photography, yaitu :

Available/Ambient light.  
Memotret menggunakan available/ambient light menggunakan cahaya yang tersedia seperti cahaya matahari, bulan bahkan petir.  Jika pemotretan dilakukan di dalam ruangan berarti kita memanfaatkan cahaya yang ada pada ruangan itu (room light).

Tempatkan media, objek dan property foto di dekat jendela dimana cahaya tidak langsung menyinari. Pastikan untuk mematikan setiap lampu dekat atau lampu di atas kepala jika kita hanya ingin sinar matahari, tidak ada pencampuran di lampu buatan.

Penggunaan cahaya yang tersedia adalah tantangan tersendiri bagi fotografer. Penerangan dalam ruangan yang mengandalkan cahaya matahari, misalnya, mungkin memerlukan penggunaan warna atau reflektor untuk memanipulasi cahaya. Tips paling gampang sebenarnya objek yang difoto ditempatkan di dekat jendela  dan siapkan reflektor agar cahaya bisa menyebar.

Pada workshop food photography bersama Kompakers Makassar hari itu, kami menggunakan alas kue segiempat berlapis kertas silver sebagai reflektor. Cukup mudah didapatkan walaupun agak rempong kita bawa kemana-mana, apalagi kalau lagi hang out di kafe dan pengen motret makanannya. Triknya bisa menggunakan kertas roti, kertas kalkir atau kertas putih lainnya yang tidak terlalu tebal. Selain itu kain putih tipis, atau bahkan serbet besar terbuat dari linen/katun putih juga bisa dicoba untuk digunakan sebagai reflektor.

Artificial Light
Jenis pencahayaan ini menggunakan penerangan buatan seperti flash pada kamera/smartphone atau lampu studio. Untuk menunjang memanipulasi cahaya ada tambahan alat yang lebih kompleks seperti softbox, octabox, diffuser dan sebagainya.

Untuk food photography professional  pasti lebih banyak printilannya dibanding food photography pemula. Sebagai pemula biasanya lebih mengandalkan available/ambient light. Meski begitu jika ingin menggunakan artificial light, lampu meja belajar pun sebenarnya bisa digunakan sebagai pengganti lampu studio.

2. Komposisi Gambar

Selain pencahayaan, hal penting lainnya dalam food photography adalah komposisi gambar. Tujuannya tentu agar makanan atau minuman yang ditampilkan pada foto tidak saja terlihat menarik tapi juga menggiurkan. Ada tiga jenis komposisi gambar yang perlu diketahui :

The Rule of Thirds

The Rule of Thirds mungkin merupakan prinsip yang paling terkenal dari komposisi fotografi. Prinsip dasar di balik aturan ini adalah menempatkan objek pada rasio sepertiga dan dua pertiga bagian layar.

Untuk lebih memudahkan penempatan objek, pilih menampilkan grid pada display kamera atau smartphone kita. Layar akan terbagi ke dalam 9 kotak, tiga horisontal dan tiga ruang vertikal. Dari ke 9 kotak itu kita memiliki pertemuan empat titik pada layar. Bagian paling menarik dari foto diletakkan tepat di salah satu empat titik, entah itu di bagian atas, bawah, kiri atau kanan.

Diagonal

Pada komposisi diagonal rule objek foto ditempatkan pada konsep garis diagonal dengan bantuan garis pada grid di layar smartphone atau view finder di kamera. Meski objek tidak harus ditempatkan selurus mungkin, bukan berarti kamera atau smartphone yang dimiringkan. Agar membentuk gambar yang diagonal, kita yang harus mengatur objek kita sesuai dengan diagonal frame di kamera kita.

Dead Centre

Ini dia teknik yang paling gampang dan mungkin paling sering diterapkan saat kita memotret makanan sebelum makan. Objek foto ditempatkan di tengah-tengah persinggungan garis yang membagi ke 4 bidang pada grid di layar smartphone.

3. Background

Background bisa mempercantik sebuah foto tapi juga bisa mengalihkan perhatian pada objek sebenarnya. Gunakan background yang sederhana dan tidak terlalu mencolok, sehingga perhatian orang yang melihat foto kita  tetap terfokus pada objek foto.

Background yang kontras dengan warna makanan dapat pula membuat objek foto kita terlihat lebih menggiurkan. Coba deh perhatikan foto makanan oriental di menu-menu, iklan di media atau display billboard. Biasanya foto tersebut menggunakan background putih. Dengan warna putih sebagai background warna dari masakan oriental yang pada umumnya berwarna terang akan lebih menonjol.

Sementara untuk makanan berwarna pucat bisa diakali dengan latar belakang gelap dan tambahkan beberapa taburan maupun hiasan dengan warna warni agar makanan terlihat lebih segar.

Kamera

Setelah membeberkan aturan dasar dari food photography, lalu muncul pertanyaan di sesi tanya jawab. Haruskah menggunakan kamera dslr atau mirrorless untuk pengambilan gambar pada food photography ?

Sebenarnya tidak perlu, kecuali kalau memang ingin benar-benar serius menggarap food photography ini sebagai lahan penghasilan. Basically, sebagai pemula menggunakan kamera smartphone pun boleh banget. Toh sekarang smartphone mempunyai kamera yang makin hari makin canggih. Meski kata kak Sandy ada satu smartphone yang kualitas fotonya setara dengan kamera dslr, saya sendiri percaya sebenarnya gak terlalu penting pake kamera atau smartphone apa. The most important thing is the man behind the camera.

Practice Makes Perfect

Saya percaya foto adalah sebuah seni, dan seni itu tidak bergantung hanya pada kecanggihan alat tapi lebih kepada yang menggunakan alat tersebut. Secanggih apapun kameranya kalau yang menggunakan tidak mengerti kegunaan fitur-fitur yang ada atau tidak punya sense of photography akan percuma juga. Untuk mengasah seni fotografi yang kita miliki, kita tetap harus berlatih. Bener kan?

Saya juga masih dalam taraf belajar. Hasil jepretan menggunakan smartphone itu saya upload di Instagram @vitamasli. Follow akunnya boleh kak.. 😀

Hasil mengikuti workshop ini sudah saya terapkan meski kadang-kadang saya masih melanggar aturan juga sih (Well.. rules are made to be broken, right?). Kalau kamu mengikuti aturan dasar food photography atau mengikuti ‘perasaan’ saja? Share di kolom komentar yah..

Disclaimer : all food photos taken by @vitamasli 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s